KAPAL KARAM ITU "INDONESIA

Saya sedang berbicara tentang runtuhnya pilar bangsa yang dibangun dalam semangat, keringat dan darah reformasi, tentang bayi yang dilahirkan oleh rakyat Indonesia, karena dengan kelahiran bayi ini diharapkan kehancuran dan kebangkrutan bangsa ini yang disebabkan dari perilaku culas dan rakus yang sudah membudaya di bangsa ini bisa dimusnahkan. Dan bayi itu bernama Komisi Pemberantas Korupsi atau yang biasa disebut KPK

Kisah Tsalabah

Di Zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup, ada sahabat yang bernama Abu Tsa’labah. Hidupnya sangat miskin dan kekurangan namun ia terkenal sebagai seorang yang taat mengerjakan shalat berjamaah bersama Nabi serta sahabat lainnya. Rosulullah SAW heran, kenapa Abu Tsa’labah selalu pulang lebih awal selesai shalat berjamaah.

Menjadi Profesional Religius Sesungguhnya

Siapa nggak bangga? Sebagai anak bangsa, saya bangga sekali ketika melihat foto anak negeri terpampang di mass media. Dengan tampilan besar dan latar belakang merah putih berkibar dengan label besar

Benyamin Sueb-Wajah Kampung Rejeki Kota

Tokoh ini sudah tidak asing lagi di tanah air, tapi sedikit orang yang tahu bila Benyamin Sueb yang biasa dipanggil bang Ben adalah seorang warga LDII yang pada akhir-akhir hayatnya aktif memberikan nasehat-nasehat kepada warga.

Sudahkah Anda Bersyukur Hari Ini??

Berapa seringkah kita bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada kita per harinya?

18 March 2013

Kisah Sebuah Pohon Apel

Dahulu kala, ada sebuah pohon apel besar. Seorang anak kecil suka datang dan bermain-main setiap hari. Dia senang naik ke atas pohon, makan apel, tidur sejenak di bawah bayang-bayang pohon apel … Ia mencintai pohon apel iu dan pohon itu senang bermain dengan dia. Waktu berlalu …….
Anak kecil itu sudah dewasa dan dia berhari-hari tidak lagi bermain di sekitar pohon. Suatu hari anak itu datang kembali ke pohon dan ia tampak sedih. “Ayo bermain dengan saya,” pinta pohon apel itu. Aku bukan lagi seorang anak, saya tidak ‘bermain di sekitar pohon lagi. “Anak itu menjawab,” Aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk membelinya. “” Maaf, tapi saya tidak punya uang ….. tapi Anda bisa mengambil buah apel saya dan menjualnya. Maka Anda akan punya uang. “Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua apel di pohon dan pergi dengan gembira. Anak itu tidak pernah kembali setelah ia mengambil buah apel. Pohon itu sedih.
Suatu hari anak itu kembali dan pohon itu sangat senang. “Ayo bermain-main dengan saya” kata pohon apel. Saya tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dapatkah Anda membantu saya? “Maaf tapi aku tidak punya rumah. Tetapi Anda dapat memotong cabang-cabang saya untuk membangun rumahmu.” Lalu, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting dari pohon dan pergi dengan gembira. Pohon itu senang melihatnya bahagia, tapi anak itu tidak pernah kembali sejak saat itu.
Pohon itu kesepian dan sedih. Suatu hari di musim panas, anak itu kembali dan pohon itu begitu gembira. “Ayo bermain-main dengan saya!” kata pohon. “Saya sangat sedih dan mulai tua. Saya ingin pergi berlayar untuk bersantai dengan diriku sendiri. Dapatkah kau memberiku perahu?” … “Gunakan batang pohonku untuk membangun perahu. Anda dapat berlayar jauh dan menjadi bahagia.” Lalu anak itu memotong batang pohon untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar dan tak pernah muncul untuk waktu yang sangat panjang.
Akhirnya, anak itu kembali setelah ia pergi selama bertahun-tahun. “Maaf, anakku, tapi aku tidak punya apa-apa untuk Anda lagi. Tidak ada lagi apel untuk ananda. …” kata pohon “…..
” Saya tidak punya gigi untuk menggigit “jawab anak itu.”
” Tidak ada lagi batang bagi Anda untuk memanjat” .
“Saya terlalu tua untuk itu sekarang” kata anak itu.”
“Saya benar-benar tak bisa memberikan apa-apa ….. satu-satunya yang tersisa adalah akar sekarat” kata pohon apel dengan air mata.
“Aku tidak membutuhkan banyak sekarang, hanya sebuah tempat untuk beristirahat. Saya lelah setelah sekian tahun.” Anak itu menjawab.
“Bagus! Akar Pohon Tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat di situ.” “Ayo, ayo duduk bersama saya dan istirahat”
Anak itu duduk dan pohon itu sangat gembira dan tersenyum dengan air mata.
“Ini adalah cerita untuk semua orang. Pohon adalah orang tua kita. Ketika kita masih muda, kita senang bermain dengan Ibu dan Ayah … Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka … hanya datang kepada mereka ketika kita memerlukan sesuatu atau ketika kita berada dalam kesulitan. Tidak peduli apa pun, orang tua akan selalu berada di sana dan memberikan segala sesuatu yang mereka bisa untuk membuat Anda bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak laki-laki itu kejam kepada pohon tapi itu adalah bagaimana kita semua memperlakukan orang tua kita.”
Sumber: Ekojuli.wordpress.com

14 March 2013

LDII Sesat, Berbahaya? Wuidih Serem Amat..!

…sepertinya hanya orang-orang yang ketinggalan informasi/berita, yang tidak mengikuti berita, yang masih menganggap/termakan isyu menyesatkan mengatakan LDII Sesat, LDII Berbahaya. Atau memang karena sakit hati sehingga begitu bencinya terhadap LDII, entah mengapa penyebabnya..
Dalam perjalanan sejarah LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), LDII telah mengalami berbagai macam fase dari mulai fase marginalisasi dimana LDII sebagai ormas dimarginalkan/dipinggirkan bahkan mungkin tidak dipandang sebelah mata pun, kemudian LDII mengalami fase kontroversi dimana ada yang pro dan kontra terhadap LDII, fase Konsensus masa dimana LDII sudah merupakan salah satu pilihan diantara berbagai ormas yang ada, ibaratnya misal orang senang sepakbola : ada yang senang memilih Manchester United (MU) ada yang memilih Chelsea, dll. analoginya juga sama dengan orang yang senang minum soft drink ada yang senang coca-cola, pepsi cola, 7 up, sprite, temulawak (yang terakhir disebut mah bukan softdrik, hehe) dll..lah kok jadi promosi nih, hehe.. dan saat ini LDII dalam tahap Kontribusi dimana peran LDII sebagai ormas berperan aktif baik memberikan masukan kepada pemerintah/lembaga terkait, maupun terjun langsung dalam berbagai kancah pembangunan di berbagai bidang baik bidang dakwah/keagamaan sebagai bidang garapan LDII maupun bidang lain seperti dalam bidang kesehatan,penghijauan/ go green, ekonomi & politik. Semua yang dilakukan LDII (warga maupun pengurusnya/institusi) dalam koridor ibadah. Memang kami niatkan untuk ibadah. Kalau ada yang menyangka lain-lain, ya itu hak mereka. Sebagai contoh LDII melaksanakan gerakan go green dari tingkat pusat (Dewan Pimpinan Pusat/ DPP), Propinsi (Dewan Pimpinan Wilayah/DPW), Kota/Kab (Dewan Pimpinan Daerah/DPD), maupun Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Anak Cabang (PAC). Gerakan go green sejatinya adalah ibadah, silakan baca LDII Makna Gerakan Go Green LDII, klik!
LDII dalam 1-2 tahun belakangan ini, tanpa terasa sudah terjadi rekonsiliasi dalam berbagai level, baik level negara, level ulama maupun masyarakat.
Dalam level negara : dalam acara Rakernas LDII di Bogor beberapa waktu yang lalu (11-12 April 2012), Pak Wapress Boediono hadir memberikan sambutan atas nama Presiden RI dan acara dibuka oleh Mentri Agama RI Suryadharma Ali, termasuk hadir memberikan materi Wakapolri Komjen Nanan Sukarna, kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris) dan tokoh-tokoh nasional lainnya seperti Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dll.
Dalam Level Ulama: Pondok Kediri LDII sebagai basis ilmu yang diajarkan kepada santri-santri / calon mubaligh mubalighoh LDII telah dikunjungi oleh para ulama yang ingin meninjau langsung kegiatan belajar mengajar santri-santri LDII dan melihat langsung ajaran apa yang diajarkan LDII di pondok tersebut. Beberapa tokoh Ulama yang telah mengunjungi pondok LDII misalnya KH. Walid Marhaban Adnan (Ulama Bakongan Aceh), KH. Zulfikar Hajar (Medan), Ketua MPU Kab.Semelu Aceh KH.Muchlis S.Ag, Ketua MUI Sulsel Dr. Abdurahim Yunus MA, Prof. Minhajudi, MA, Prof.Dr.H.Muh. Galib, MA dan lain-lain.
Level Sosiologis : ditandatanganinya nota kesepahaman /Memorandum of Undestanding (MoU) antara DPP LDII dengan PB NU (Nahdlotul Ulama) yang berisi 5 hal yaitu : 1. Dakwah Deradikalisasi   2.Pendidikan  3. Ketahanan Pangan  4. Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana  5. Menjaga NKRI.
Beberapa kegiatan LDII yang merupakan upaya kontribusi dan bersifat substansial, diantaranya :
- LDII diundang dalam ijtima’ Ulama di Cipasung tahun 2012
- LDII diundang dalam sidang isbat penentuan 1 Romadhon, 1 Syawal dan 1 dzulhijah
- Ketua Umum dan beberapa pengurus DPP LDII diterima Mendagri Gamawan Fauzi dan LDII diakui secara legal dalam tingkat Nasional dengan  dikeluarkannya SKT (Surat Keterangan Terdaftar).
- Ketua Umum ditunjuk sebagai bagian dari Amirul hajj tahun 2012
- LDII mengikuti undangan pemerintah (cq DEPAG) mengikuti pelatihan isbat, Februari 2013
Dalam Bahasa manajemen fase yang dialami LDII dalam perjalanan sejarahnya adalah fase forming (membentuk), storming (kontroversi), Norming (normalisasi) dan performing (performance, kontribusi)
…sepertinya hanya orang-orang yang ketinggalan informasi/berita, yang tidak mengikuti berita, yang masih menganggap/termakan isyu menyesatkan mengatakan LDII Sesat, LDII Berbahaya. Atau memang karena sakit hati sehingga begitu bencinya terhadap LDII, entah mengapa penyebabnya..
Sepertinya hanya orang yang ketinggalan informasi/ketinggalan berita, yang tidak mengikuti berita yang masih menganggap/termakan isyu dan memberikan stigma LDII Sesat, LDII berbahaya. kemungkinan lainnya tuduhan dan stigma negatif tersebut berasal dari mereka yang merasa sakit hati mungkin pernah tersinggung atau ada keinginan di LDII yang tidak tercapai. Masih saja LDII difitnah dengan tuduhan keji bahwa LDII adalah organisasi sesat dan berbahaya, padahal kami ini jinak-jinak tidak berbahaya lho..masih saja ada yang termakan isyu bahkan menyebarkan isyu tidak bertanggung jawab tersebut tanpa tabayyun terlebih dahulu. Info menyesatkan tersebut diterimanya mentah-mentah, bulat-bulat, langsung di copas (copy paste)..Bahkah para akademisi yang notabene mereka adalah orang terpelajar yang seharusnya memahami bahwa acuan berita yang tidak ilmiah dan sepihak tentu tidak bisa dijadikan rujukan.. hayya!
Ada juga berita yang menggelitik “hati-hati” kalau mengikuti pengajian LDII nanti bisa terpengaruh dan tidak bisa kembali…heyhey aya-aya wae. Tapi ini kisah nyata lho, beneran lho hati-hati kalau mengikuti kegiatan/pengajian LDII. Cerita nyata ini saya dapatkan dari blog tetangga yang tersesat ke rimba ldii http://perlengkapan-mbahman.blogspot.com/2012/04/tersesat-ke-ldii.html
…..akhirnya aku tahu dan tersadar, bahwa aku baru saja masuk dan tersesat di dalam Rimba LDII yang terkesan menyeramkan. Tapi sama sekali aku belum tahu tentang seramnya rimba LDII. Aku cuma tahu semua sama, semua saya ikuti.Ya…semua sama, dan semua kuikuti.  Tapi beberapa waktu setelah aku rutin duduk mendengarkan Si Penyampai yang telaten menyampaikan isi Al-Qur’an dan Al-Hadis pikiranku dan hatiku berubah.
Hari berganti hari bualn dan tahun, tak terasa aku semakin jauh masuk kedalam Rimba LDII. Barulah suatu saat aku dengar ‘Jangan sekali-kali masuk kesitu, karena tidak bisa kembali.’ Ya betul sekali…itulah yang saya alami. Dan suara-suara diluar rimba sana yang selalu menderu melewati udara rimba yang rindang ini, sama sekali tidak berpengaruh padaku. Yang katanya ini, itu, anu ternyata belum pernah aku temukan dan alami….
Itulah pengalamanku….
Apapun isyu yang berkembang di masyarakat bahkan di dunia maya ini, yang jelas LDII akan jalan terus berdakwah, beramal shalih dan niat Karena-Alloh (lillahi ta’ala) demi tegaknya Dienul Islam dan li ‘ila ‘i kalimatulloh alias mengagungkan Kalimah Alloh. Yang pasti kami percaya dalil : “wamakaruu wamaakarulloh, Walloohu Khoirul Maakiriin..”  …”mereka berupadaya, Alloh akan berupadaya mengalahkan upadaya mereka, dan Alloh sebaik-baiknya Yang Berupadaya..
Ya biasalah namanya juga orang banyak, rambut sama hitam namun pendapat berbeda. Ada yang senang terhadap LDII ada juga yang  tidak senang entah apa alasannya. Bahkan ada yang sudah bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun mengikuti kegiatan LDII , eh tiba-tiba mengatakan keluar dari LDII, merasa tertipu mengikuti LDII dan malah menyerang LDII, menjelek-jelekkan LDII ini dan itu. Saat ini sudah banyak orang terpelajar yang tentunya tidak begitu saja mudah tertipu dengan statement-statement mereka, lha bagaimana mungkin mereka bisa tertipu begitu lamanya di LDII sampai bertahun-tahun dan berpuluh tahun mengikuti kegiatan LDII, lama banget mereka baru sadar ya kalau memang mereka tertipu..kok bisa ya, ah yang bener aje.. Ada juga yang mengatakan kalau keluar dari LDII akan dikejar-kejar untuk dibunuh, wuidih serem amat, buktinya salah satu pentolan yang keluar dari LDII dan menjadi pemfitnah LDII selama ini, buktinya meninggal tidak karena di bunuh, malah meninggal dengan sendirinya karena memang jatah hidupnya sudah berakhir, bukankah yang berhak mencabut nyawa hanya Alloh dengan menugaskan malaikat izroil..? Kejam banget ya menyangka LDII sebiadab itu..
Warga LDII tidak memiliki kartu anggota, jadi bebas-bebas saja mengikuti pengajian dan kegiatan LDII. Daripada termakan isyu yang macam-macam, lebih baik ikuti saja kegiatan dan pengajian-pengajian LDII atau bahkan anda bisa berpura-pura mengikuti semua kegiatan LDII, gampang khan.. Buktikan sendiri kebenaran isyu yang berkembang selama ini. Buktikan sendiri isyu yang berkembang bahwa Kalau sholat di masjid-masjid yang dikelola LDII maka bekasnya akan di pel. Repot amat ya jadi warga LDII kalau demikian. Bisa dibayangkan masjid-masjid/ mushola LDII yang lantainya berlapis karpet harus selalu di pel/dicuci, kayaknya kita harus mendirikan lembaga laundry LDII khusus untuk mengepel/mencuci karpet-karpet yang dipakai sholat selain warga LDII..hehe.. itu mah isyu 15 tahun yang lalu yang anehnya masih saja ada yang termakan isyu tersebut..waah kayaknya orang-orang yang gampang termakan isyu nih, please weak up man..capee deh!
Alangkah bijaknya dan alangkah indahnya jikalau umat muslim tidak saling sesat menyesatkan, tidak saling menjegal, tidak mengembangkan sikap-sikap dan perilakau yang memecah belah umat, apalagi yang merasa dirinya kaum terpelajar dan ulama janganlah membuat bingung umat Islam ini dengan menebar fitnah, kebencian dan permusuhan, bukankan seharusnya tidak begitu? Saudara-saudariku sesama umat Muslim, mari hidup berdampingan, menebar kebajikan dan dakwah yang menyejukkan, mari kita garap bidang garapan masing-masing dalam pembinaan umat. Toh tujuan akhir kita sama yaitu masuk surga selamat dari neraka, kitab suci kita sama yaitu berpedoman pada Alquran dan Al Hadits, Nabi kita sama yaitu Nabi Muhammad SAW, Ibadah haji kita sama ke Mekkah almukaromah, rukun Islam kita sama, rukun iman kita sama, hanya beda bendera saja. apalah artinya, itu khan hanya persyaratan berorganisasi saja bukan tujuan (orang kumpul-kumpul harus ada wadah), apa untungnya menjelek-jelekkan komunitas lain. Masa sih hanya karena urusan furuiyah /praktek ibadahnya berbeda dikit, lalu di cap sesat ? yang diamalkan warga LDII hanya yang ada di dalam kitabulloh dan Al Hadits, lha kalau yang mengamalkan Quran Hadits dianggap sesat, yang bagaimana yang tidak sesat???
Akhirnya sebagai penutup tulisan ini, kami sama sekali tidak takabur (naudzubillah min dzalik). Semuanya kami pasrahkan kepada Alloh SWT, kami hanya mengandalkan nashrumminalloh,kami bukanlah siapa-siapa bukan apa-apa, kami bukan “super” kami bukan “star” kalau digabungin kami bukan “superstar”, yang penting LDII tidak salah niat dalam beribadah, selebihnya dipasrahkan/diserahkan kepada Alloh. Silakan Anda bisa menilai sendiri.
LDII Jabar

Kisah Tsa'labah

Di Zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup, ada sahabat yang bernama Abu Tsa’labah. Hidupnya sangat miskin dan kekurangan namun ia terkenal sebagai seorang yang taat mengerjakan shalat berjamaah bersama Nabi serta sahabat lainnya. Rosulullah SAW heran, kenapa Abu Tsa’labah selalu pulang lebih awal selesai shalat berjamaah.
Pada suatu hari Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya : “Wahai Tsa’labah, mengapa aku lihat engkau selalu terburu-buru pulang kerumah. “Tsa’labah pun menjawab : “Wahai Rasulullah, sebenarnya hamba ini seorang yang sangat miskin, kebetulan hanya inilah saja sehelai kain yang hamba miliki. Itu sebabnya, hamba tidak sempat menunggu lama sebab kain inilah yang dipakai oleh istri hamba yang kini sedang menunggu untuk shalat di rumah.”
Pada suatu hari Tsa’labah merayu Rasulullah SAW supaya bersedia mendoakan dirinya agar Allah Ta’ala memberinya harta kekayaan. Mendengar permintaanya itu, Rasulullah SAW menyuruhnya bersyukur dengan apa yang ada. Hal itu dikatakan karena Rasulullah SAW takut pada saatnya Tsa’labah lupa daratan.
Tsa’labah merayu lagi kepada Rasulullah SAW sambil bersumpah bahwa ia orang yang berhak mendapat bantuan. Akhirnya Rasulullah SAW pun berdoa kepada Allah agar Tsa’labah diberi kemewahan. Lantas Rasulullah SAW memberinya 2 ekor kambing untuk di rawat. Seiring berjalanya waktu, berkembangbiaklah kambingnya yang membuatnya terpaksa berpindah keluar Madinah karena kambing yang dipelihara kian banyak dan kawasan ladang ternak sudah tidak mencukupi.
Pada satu ketika turun perintah Allah mengenai zakat. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan dua orang pegawainya memungut zakat dengan membawa surat Rasulullah SAW yang menerangkan jenis-jenis harta benda yang diwajibkan dikeluarkan zakatnya.
Mereka juga diperintahkan supaya pergi ke tempat Tsa’labah mengambil zakat binatang ternaknya. Juga mengambil zakat dari seorang lagi yang tinggal tidak jauh dari situ.
Setibanya mereka ke tempat Tsa’labah dengan mengenalkan diri sebagai pemungut zakat dan membacakan surat Rasulullah SAW kepadanya, Tsa’labah pura-pura tidak faham. Ia mengatakan bahwa zakat yang dikenakan itu sama saja dengan cukai/pajak. Kemudian Tsa’labah meminta mereka datang sekali lagi ke tempatnya, sekembalinya mereka dari tempat lain.
Setelah itu kedua petugas tadi mampir sekali lagi untuk memungut zakat dari Tsa’labah. Tsa’labah masih juga berdalih dan akhirnya dia mengusir dan meminta mereka pergi.
Kedua petugas itu kemudian kembali ke Madinah dengan membawa zakat yang telah di pungut dari yang lain dan juga membawa berita Tsa’labah yang enggan membayar zakatnya. Mendengar hal itu Rasulullah SAW terlihat marah dan berdoa semoga Tsa’labah mendapat balasan yang seburuk-buruknya atas tingkah lakunya dari Alloh SWT.
Setelah Tsa’labah diberitahu oleh seorang sahabatnya tentang perkara kabar itu, gemetarlah dia, lalu dia pergi bertemu Rasulullah SAW untuk memohon maaf dan memohon menerima zakatnya. Tetapi permohonannya ditolak oleh Rasulullah SAW dengan bersabda : “Aku dilarang oleh Allah Ta’ala menerima zakatmu”.
Tsa’labah menyesal atas apa yang dilakukanya. Dia berguling-guling di atas tanah sebagai wujud penyesalannya. Ia adalah salah seorang yang dimurkai Alloh dan rosulnya sampai Rasulullah SAW wafat.
Zakatnya juga ternyata di tolak oleh Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman R. A. Mereka tidak mau menerima zakat dari Tsa’labah karena Rasulullah SAW juga tidak menerima zakatnya. Demikian seterusnya sampai Tsa’labah meninggal dan seluruh hewan peliharaanya juga ikut mati,  SUBHANNALLOH…. Naudzubillah Min Dzalik…. Semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang merugi Amiiin…


Motivasi dari Sang Nenek



Seorang nenek yg sedang menulis surat menasihati cucunya. “Nenek harap kamu bakal spt pensil ini ketika km besar nanti.”
“Pensil ini mempunyai 5 kualitas yg bisa membuatmu selalu tenang dlm menjalani hidup, kalau km selalu memegang prinsip-prinsip itu di dlm hidup ini.”
Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil :
“Kualitas pertama,
Pensil mengingatkan km kalau km bisa berbuat hal yg hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, km jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dlm hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.”
“Kualitas kedua,
Dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan utk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan km, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yg akan membuatmu menjadi orang yg lebih baik.”
“Kualitas ketiga,
Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dlm hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.”
“Kualitas keempat,
Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dlm sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah menyadari hal-hal di dalam dirimu. Instropeksi diri & jgn menyalahkan org lain terlebih dahulu.”
“Kualitas kelima,
Sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Spt juga km, km harus sadar kalau apapun yg km perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan agar tdk menyakiti org lain.

Renungakanlah Wahai Anak !!!!

Suatu sore  yang cerah diiringi dengan angin yang silir dan segar seorang Ibu duduk di kursi roda di tepi danau yang indah yang diwarnai dengan beberapa satwa menambah semaraknya suasana diwaktu itu , dengan ditemani oleh anaknya yang sudah sukses dalam kehidupannya ibu tersebut nampak gembira sekali.

Dalam memecah keheningan tiba-tiba  si ibu bertanya “Nak..  yang berdiri diatas batu disana itu burung apa nak ??” “O itu burung Bangau mama” anaknya menjawab dengan sopan, penuh kasih sayang.

Tak lama kemudian si mama bertanya lagi..
“Lha yang Itu yang warna putih itu burung apa?” Sedikit agak kesal anaknya menjawab ” ya bangau juga mama?…”
Kemudian ibunya kembali bertanya
” Lantas itu burung apa ?” Ibunya menunjuk burung bangau tadi yg sedang terbang…
Dengan nada kesal si anak menjawab “ya bangau mama! kan sama saja! emangnya mama gak liat dia terbang?!!”
Tanpa disadari air menetes dari sudut mata si mama sambil berkata pelan..”Dulu…. 28 tahun yang lalu aku memangku mu ditempat ini dan mama dengan membelai rambutmu yang ikal, mama menjawab pertanyaan yang sama untuk mu sebanyak lebih dari 10 kali,……… tetapi saat saat yang indah  ini mama baru bertanya 3 kali…… tetapi  engkau …….sudah membentak   mama  2 kali.. dan kamu merasa kesal pada mama..”
Si anak terdiam…….. sejenak dan kemudian dia langsung memeluk mamanya….. sambil bergumam…. “Astagfirullah……ampunilah hambamu ini ya Alloh,  maafkan putramu ini  mama”…………. mama aku sayang mama…. sekali lagi maafkan mama……………
Pernahkah kita memikirkan apa yg telah diajarkan oleh seorang mama kepada kita?……………… jarang……….
Ingatlah betapa berjasanya seorang mama pada anak-anaknya yang dirawat, diasuh mulai bayi dengan penuh kesabaran, penuh kasih sayang…. yang tiada bandingannya….. tiada pernah minta ganti….
Sayangilah Mama/Ibu-mu dengan sepenuh hati, lahir batin krana Alloh, sungguh sorga berada di telapak kaki Ibu.
Mohon ampunan dan bertaubatlah jika kamu pernah menyakiti hati mama/Ibumu.
*Pernah kita ngomelin Dia/mama ?
*pernah kita cuekin Dia/mama?
*pernah kita mikir apa yg Dia/mama sedang pikirkan?
* sebenernya apa yg sedang Dia/mama fikirkan ?
‘Takut’:
-takut nggak  bisa melihat  kita tersenyum , nangis atau ketawa lagi, papa dan mama pengin anaknya berbahagia dunia akherat.
- takut nggak bisa ngajar kita lagi, mama akan dengan sabar dan penuh kasih sayang mengajari anaknya, apa yang ditanya akan dijawab dengan senang hati, karena pengin anaknya menjadi orang mempunyai martabat dan jati diri .
Semua itu karena waktu Dia singkat..
Saat mama/papa menutup mata , nggak akan lagi ada yangg cerewet.:(
Saat kita menangis memanggil-manggil  Dia/mama , apa yg dia bales ?
‘Dia cuma diam’:(
Tapi bayangannya dia tetap di samping kita dan berkata : “anakku jangan menangis, mama/papa masih di sini.

Mama/papa masih sayang kamu.”:(
Sayangilah Mereka sebelum waktu Beliau tiba……

Awas, Mirip Keledai!!

Nasi sudah menjadi bubur, entah mengapa hewan yang satu ini identik dengan sebuah kedunguan. Orang sering menyebut namanya, sekedar untuk mengatakan sebuah kebodohan. Orang sering memakai namanya untuk melampiaskan ketololan. Banyak kesalahan dan kejelekan yang tidak ia perbuat, tetapi dialamatkan kepadanya. Dasar keledai! Begitulah yang sering telinga kita dengar selama ini, walau banyak juga di antara kita yang belum melihat seperti apa hewan ini.

Mungkin dari rupanya yang imut, tubuhnya yang tidak gede-gede amat, tinggi semampai – semeter tak sampai, dan polahnya yang lamban – gemulai, itulah yang mendorong menjadikannya sasaran tembak. Orang seenaknya berprasangka, padahal dia punya peran besar dalam perjalanan sejarah umat manusia, sebagaimana tersebut di dalam Kitab Allah, “Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS An-Nahl: 7 – 8).


Juga sejak kapan label itu disematkan kepadanya, tak tercatat dalam sejarah. Sebut saja kisah Nasrudin, tokoh sufi di jamannya, ketika bertemu dengan Timur Lenk. Kesatria Mongol yang meluluh-lantakkan dinasti islam itu, menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Tanpa bermaksud menggurui, apalagi tersinggung, dengan kecerdikannya, Nasrudin menerimanya dengan senang hati hadiah keledai tersebut. Sekalipun dengan tugas yang berat, karena Timur Lenk berkata, “Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat bagaimana hasilnya. Apakah binatang dungu ini bisa membaca?”

Semua orang tahu, keledai tidak bisa membaca, tapi bagi Nasrudin itu hal yang berbeda. Nasrudin berlalu dengan keledai di tangan, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana menjawab tantangan. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya. Si keledai menatap buku itu, dan tak lama kemudian mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus-menerus dibaliknya setiap lembar halaman buku itu sampai ke halaman terakhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin. “Demikianlah,” kata Nasrudin, “keledaiku sudah bisa membaca.”

Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca?”

Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi,” tukas Timur Lenk dengan ketidak-puasannya, “bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya?”

Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya.”

Bagi pecinta lelucon, cerita di atas cukup untuk membuat kedua bibir merekah. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Namun sebenarnya terdapat pesan mendalam dari anekdot di atas. Bukankah masih banyak manusia yang semisal keledai di atas? Allah bahkan sudah mengingatkan; “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang dhalim.” (QS Jumuah: 5). Bagaimana dengan umat islam sendiri?

Fakta membuktikan angka buta huruf Alquran di kalangan mereka yang mengaku islam masih tinggi. Yang melek huruf dan bisa membaca hanya sebagian, kurang dari sepertiga. Itu pun hanya bisa membaca, belum bisa mengetahui isinya: arti dan maknanya. Jadi bukan hanya pemilik Taurat yang seperti keledai sebagaimana Allah sebut di atas, keadaan kita umat islam juga serupa bin sama.

Tak usah menunjuk hidung orang lain, saya pribadi mempunyai kebiasaan yang boleh disebut seperti keledai. Kenapa? Membaca alquran tidak bisa setiap hari. Mengaji al-hadits tidak bisa setiap minggu. Saya suka membawa Al-quran, al-hadits atau kitab sebagai bacaan setiap kali pergi ke kantor. Maksudnya ingin membaca atau menderesnya, jika ada waktu luang. Ternyata sampai saat pulang kembali, buku itu masih tersimpan rapi dalam tas. Tak ada waktu membukanya. Ia hanya nunut bertamasya setiap pagi ke kantor dan balik lagi ke rumah dibalik punggung saya. Saya memanggulnya setiap hari. Kadang saya kaget sendiri ketika membuka tas dan mendapati kitab itu ada di dalamnya. Dengan coolnya dia seperti menampar kesungguhan dan niat baik saya untuk mendalaminya. Astaghfirullah…!

Perilaku saya dalam hal ini, jika tidak saya kontrol dengan baik lambat – laun akan serupa dengan spirit ayat di atas. Wah, lupa deres. Wah, sibuk! Itu sudah menjadi jamak dan menjadi permakluman. Jika tidak dideteksi sejak dini, menyadari sedari awal, semakin banyak kita yang terlena. Hanya bangga punya al-quran dan al-hadits, tetapi cuma sekedar punya. Sekedar memajang atau membawanya. Tanpa mau bersusah – payah membuka, membuka lagi dan mempelajarinya. Tanpa mau dan peduli mengkaji dan menderesnya.

Oleh karena itu, saya melecut diri saya dengan mengumpamakan seperti keledai agar bangkit dan bersemangat lagi uthlubul ilma. Mencari ilmu. Biar semangat lagi deres atau mengulangnya. Semangat ngaji, kalau tidak mau jadi keledai beneran. Jangan sampai Al-quran dan hadits hanya menjadi pajangan saja. Jadi beban bawaan saja tanpa mau mendalami dan mendalaminya yang akhirnya kayak Yahudi, dari lupa kemudian mendustakan. Naudzubillah,,,!!! Semoga kita semua benar – benar menyadari ini semua dan segera merubahnya. Agar semakin lama, semakin khusyu dan istiqomah dalam tuntunan quran hadits yang membahagiakan ini. Apalagi kalau mengingat pesan Allah yang satu ini.

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS al-Hadiid:16)

Masa yang panjang, kehidupan yang tenang, kondisi yang nyaman tanpa halangan, kadang sangat melenakan. Apalagi jika banyak diisi dengan kelupaan dan kemalasan. Dan saya pikir, lebih beruntung keledai yang tak harus berpikir itu semua. Sebab perannya sebagai hewan, yang tak harus dihisap seperti manusia layaknya. Jadi, di kelindan jaman yang disebut modern ini, di kehidupan yang dilabeli globalisasi ini, masih sangat relevan kita meneriakkan peringatan; awas keledai! Sebab masih banyak tingkah – laku muslim sepertinya. Setuju?

Oleh: F.A.

Sumber : http://kmi-s.ppisendai.org