27 February 2013

KAPAL KARAM ITU BERNAMA “INDONESIA”

Saya tidak sedang berbicara politik, saya berbicara hukum dan nadi bangsa bernama Indonesia, yang kebetulan saja bahwa peristiwa hukum tersebut melibatkan Ketua Umum Partai Politik berkuasa saat ini.

Dan saya tidak sedang berpihak kemanapun, sebab sejak terlahir hingga sekarang saya belum bernah mencoblos partai politik manapun, atau calon presiden siapapun, sebab bagi saya, Indonesia dan politik Indonesia akan lebih Indah bila hanya hidup dalam jiwa dan imajinasi saya. Bukan dalam realitas yang memang selalu menciptakan tokoh syetan dalam wujud lain (mudah-mudahan tidak termasuk JOKOWI dan AHOK).

Saya sedang berbicara tentang runtuhnya pilar bangsa yang dibangun dalam semangat, keringat dan darah reformasi, tentang bayi yang dilahirkan oleh rakyat Indonesia, karena dengan kelahiran bayi ini diharapkan kehancuran dan kebangkrutan bangsa ini yang disebabkan dari perilaku culas dan rakus yang sudah membudaya di bangsa ini bisa dimusnahkan. Dan bayi itu bernama Komisi Pemberantas Korupsi atau yang biasa disebut KPK.

Dibalik wajah polos, berani dan tampang suci para punggawa KPK, ternyata ada syetan yang berwujud manusia didalamnya, yang telah merusak harapan dan kepercayaan rakyat Indonesia.

Pelacur keadilan dan hukum di jajaran Pimpinan KPK telah bermesra-mesraan dengan penguasa, yang sebenarnya adalah sesuatu yang diharamkan oleh rakyat Indonesia untuk mereka lakukan.

Pelacur hukum dan keadilan di jajaran Pimpinan KPK telah membocorkan draft SPRINDIK Anas Urbaningrum, hanya karena ada sinyal ketidak senangan petinggi Bangsa ini pada Anas.

Anas ditangkap, ditahan, dan bila berlu, kalau nanti terbukti korupsi, mau digantung di Monas, bagi saya tidak masalah, malah mungkin akan lebih baik, karena akan menjadi babakan baru dalam perjalanan bangsa ini untuk melawan kejahatan paling sadis dan tidak bermoral yang bernama KORUPSI.

Tetapi membocorkan SPRINDIK karena tekanan seorang Presiden, ini hal lain lagi, ini adalah kejahatan yang paling melukai rakyat negeri ini. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa penegak keadilan negeri ini berada dibawah ketiak Presiden.

“BERANI JUJUR HEBAT” ini adalah jargon KPK, tetapi kalau KPK memang jujur, tidak perlu dibuat team etik KPK untuk mengusut pembocor draft SPRINDIK Anas Urbaningrum. Tetapi sampai saat ini, team etik yang mengusutpun terkesan asal-asalan dalam mencari target kerja, hanya hal-hal yang bersifat procedural yang diungkap, tetapi tidak menyentuh pada pelaku. Kalau komisioner KPK sendiri sudah tidak jujur, lalu kejujuran dari siapa lagi yang bisa kita harapkan dari pilar bangsa ini.

Rakyat Indoensia menanggalkan Kejaksaan dan Kepolisian dalam ” kamus penegak dan pilar hukum” bangsa ini, karena mereka terlalu mesra dengan penguasa, maka rakyat tanggalkan mereka dari nurani dan harapan rakyat sebagai lembaga yang dapat mengayomi dan menjalankan amanat yang bangsa ini berikan.

Dengan mesranya Komisioner KPK dengan Istana, hingga berani membocorkan drfat SPRINDIK, ini akan membawa kami pada sebuah babakan baru dalam melihat pilar keadilan bangsa ini. Saya mulai berpikir bahwa KPK tidak ubahnya sarang setan dalam kekuasaan yang lebih powerful.

Kalau anda jujur, mengapa anda tidak mengatakan “saya yang membocorkan SPRINDIK”. Jangan sampai hanya karena anda ingin dianggap orang yang peduli terhadap kegalauan seorang Presiden dalam menghadapi merosotnya suara partanya, maka anda mengorbankan segala kepercayaan bangsa ini pada lembaga KPK.

Sekarang saya mulai bertanya-tanya, berap banyak “Pelacur hukum dan keadilan” berada di jajaran pimpinan KPK ?, berapa besar uang yang anda terima dari kalangan istana ?, dan sudah berapa banyak orang yang anda bantu untuk menyerang orang lain dengan membocorkan dokumen Negara seperti ini ?, berapa banyak penguasa atau orang kaya negeri ini yang sudah membeli harga diri bangsa ini melalui transaksi setan anda ?

Kalau istana tidak dapat menahan diri dari rasa ingin mendapatkan bantuan KPK untuk menyerang lawan mereka, dan kalau KPK tidak bisa menjalankan slogan yang mereka ciptakan “Berani jujur hebat”, maka negeri ini akan segera menuju karam, negeri agung yang mengaku beragama, bermoral dan berbudaya ini, akan segera karam dalam kekacauan hukum, keadilan dan politik.

Saya akan mempersiapkan sekoci saya, REFORMASI JILID II


Ditulis oleh Feri Zubaidi

No comments:

Post a Comment

Silakan Memberikan Komentar yang Membangun